Ironi Alsintan Bantuan APBN di Gudang Tani Makmur Maros: Puluhan Unit Menumpuk, Ada yang mulai berkarat

NASIONAL, NEWS148 Dilihat

Zonamerah|Maros — Ironi bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kembali mencuat di Kabupaten Maros. Di tengah petani yang mengaku telah berulang kali mengajukan proposal bantuan namun belum mendapat realisasi, puluhan unit alsintan bantuan pemerintah justru masih menumpuk di Gudang Tani Makmur.

Bukan hanya satu atau dua unit. Berdasarkan data yang disampaikan petugas gudang saat ditemui pada Jum’at 18 September 2026, sebagian besar bantuan yang masuk sepanjang 2026 belum disalurkan kepada penerima.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mekanisme penyaluran bantuan yang bersumber dari anggaran pemerintah, termasuk APBN.

Kepala Gudang Tani Makmur, Akbar, mengatakan bantuan alsintan diterima secara bertahap sejak April 2026. Barang yang masuk kemudian disimpan di gudang hingga ada dokumen atau rekomendasi dari dinas terkait untuk proses pengeluaran.

“Yang jelasnya kita cuma terima barang dan kasih keluar barang,” ujar Akbar.

Data gudang menunjukkan masih terdapat sejumlah besar alsintan yang belum keluar. Di antaranya, dari 80 unit traktor roda empat Arbos, baru 57 unit yang disalurkan. Traktor roda empat Ishoku sebanyak 50 unit baru 22 unit yang keluar, sedangkan traktor roda dua Kubota sebanyak 80 unit baru 30 unit yang disalurkan.

Yang lebih mencolok, 50 unit pompa air Ishoku baru dua unit yang disalurkan, sementara 50 unit hansprayer Tasco belum satu pun dikeluarkan.

Pada jenis combine, kondisinya juga menjadi sorotan. Dari 20 unit mobil combine Maxi Bimo, 19 unit telah disalurkan. Namun 10 unit combine Tanikaya disebut belum ada yang keluar, sedangkan dari 13 unit combine Inara baru lima unit yang disalurkan. Sebanyak tujuh unit combine Gatra juga disebut belum keluar dari gudang.

Selain itu, dari 250 unit pompa air 2 inci Artugo, sebanyak 231 unit telah keluar. Sementara lima unit drone Enersky yang tercatat baru satu unit yang disalurkan. Terdapat pula satu unit combine Ishoku yang tercatat dalam data gudang.

Petugas gudang juga menyebut bantuan tersebut berasal dari pemerintah, termasuk yang bersumber dari APBN. Bantuan datang secara bertahap mulai April, Juni, Juli hingga September 2026. Bahkan, terdapat satu unit yang disebut baru tiba sehari sebelum wawancara dan belum masuk dalam administrasi gudang.

Kondisi tersebut memantik kekecewaan dari kelompok tani di wilayah Maros.

Ketua Gapoktan Pettuadae, Hadi, mengaku kecewa karena pihaknya telah beberapa kali memasukkan proposal bantuan alsintan, tetapi hingga kini belum mendapatkan realisasi.

Menurut Hadi, kondisi tersebut terasa ironis karena alsintan justru terlihat tersimpan di wilayah mereka.

“Kita sudah kasi masuk proposal beberapa kali, tapi tidak pernah ada realisasi,” kata Hadi.

Ia juga menyampaikan adanya persepsi di tengah masyarakat terkait akses terhadap bantuan. Namun, pernyataan tersebut masih berupa dugaan yang perlu dibuktikan lebih lanjut.

“Kami yang tinggal di daerah perkotaan hanya bisa melihat alsintan parkir di wilayah kami. Diduga bisa saja mungkin dapat kalau ada kita bayar,” ujarnya.

Sorotan juga datang dari Ketua Tim Pengawas REPRO Maros, Asmarianto SH.

Ia menyayangkan masih banyaknya alsintan yang belum disalurkan kepada penerima, sementara sejumlah mesin disebut telah tersimpan selama berbulan-bulan.

“Kami saat melakukan pemantauan melihat masih banyak alsintan yang belum disalurkan dan menumpuk di gudang di Mobil combain tersebut tertulis Maros, Apakah mungkin ini jatah untuk kabupaten Maros yang belum terbagi,” kata Asmarianto.

Ia mencontohkan sejumlah mesin combine yang disimpan di bagian belakang gudang. Menurutnya, beberapa bagian mesin mulai menunjukkan tanda-tanda karat.

.Asmarianto mempertanyakan mengapa bantuan yang telah diterima berbulan-bulan belum seluruhnya disalurkan.

Ia menegaskan pihaknya berencana membawa persoalan tersebut ke tingkat pemerintah pusat.

“Dalam waktu dekat kami akan melaporkan ini ke Pak Mentan,” tegasnya.

Pertanyaan sederhananya: ketika petani masih menunggu bantuan, mengapa mesin yang sudah tersedia justru masih berbulan-bulan berada di dalam gudang?(Ak Culli)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *